Review Buku Titik Balik, Seni Menemukan Jati Diri Melalui Batik dan Torehan Canting

Identitas Buku
Judul Buku : Titik Balik
Penulis : Sri Ratna Handayani
Penerbit : Mata Kehidupan
Jumlah halaman : 137 halaman
Genre : Self Improvement
Tanggal Terbit : 6 November 2020
Cetakan I

Review Buku


“Saya telah menemukan batik sebagai pasion dan batik sebagai identitas saya. Bukankah setiap orang memerlukan identitas jelas? Bukankah sebuah bangsa besar memerlukan identitas”(halaman 92).


Buku ini menceritakan tentang perjalanan hidup Ratna Sri Handayani selaku penulis dalam menemukan identitas dirinya melalui batik dan membangun Batik Bogor Handayani Geulis. Buku pertamanya ini menceritakan dari masa kecil penulis yang dahulunya mengenakan sapu tangan pink dan diselipkan di saku baju atau kemejanya kemudian menjelma mejadi sosok yang dengan lemah lembut menorehkan malam dengan canting ke lembaran batik yang membuatnya berdesir.


Buku ini ditulis dengan bahasa yang ringan, dan cocok dibaca oleh semua kalangan. Oh ya, di buku ini juga semua istilah atau kosakata yang tidak umum bagi masyarakat dijelaskan dengan baik, sehingga pembaca bisa tahu arti dari istilah yang digunakan dalam buku ini.


Menariknya, buku ini dilengkapi dengan berbagai foto yang menjadi saksi perjalanan penulis dalam menemukan identitas dirinya, foto batik yang dilengkapi dengan nama dan artinya, ilustrasi dengan warna-warni yang membuat pembaca tidak merasa jenuh.


Buku ini terdiri dari dari tiga bab, dimana setiap bab memiliki jalan dan kisahnya sendiri. Bab satu terdiri dari 9 judul, dimana pembaca akan diajak berkelana ke masa kecil yang menyenangkan di Banjarmasin, kemudian masa SMA nya di kota Yogyakarta yang dilalui dengan berat, bahkan harus menahan tangis tiap malam di kamar kos nya yang sepi, masa kuliah hingga menikah dan memiliki anak.


Menurutku buku ini terbilang jujur. Karena penulis secara jujur menulis masa kecilnya yang diisi dengan privilege. Tidak seperti kebanyakan penulis yang mungkin dengan sengaja menulis masa kecilnya diisi dengan kesusahan padahal penuh privilage.


Bab kedua terdiri atas 8 judul, dimana pada bab ini dijelaskan bagaimana batik menjadi awal bagi penulis dalam menemukan identitasnya, bagaimana awal mula menekuni batik di museum Tekstil di jakarta, tempat penulis belajar sekaligus memupuk mimpi mimpinya, bagaimana penulis mengalahkan rasa takut saat bertemu dengan orang banyak dan menjadi pembicara dari panggung ke panggung, tentang menemukan pasion yang sampai sekarang tidak luntur, bagaimana mendirikan Batik Bogor Handayani Geulis di kota Bogor yang rasanya jauh dari kata batik, hingga akhirnya menjalani berbagai program eduksi batik.


Bab kedua ini yang membuatku pribadi banyak berpikir, tentang tiga pertanyaan besar yang juga ditanyakan oleh si penulis, yaitu siapa diri ini, apa yang diri ini inginkan, dan bagaimana arah tujuan hidup kita di dunia. Menurutku pertanyaan ini menjadi refleksi bagi setiap individu, karena tanpa pertanyaan ini, kita akan terus mencari hingga rasanya lelah menemukan identitas diri sendiri. Dan, aku tertarik bagaimana jawaban dari penulis tentang tiga pertanyaan besar yang menghantuinya.


“Dan yang paling utama, harapan terbesar saya adalah agar generasi muda sangat bangga terhadap batik dan menjadikannya sebagai identitas mereka, identitas sebagai bangsa indonesia” (halaman 93).


Dan demikian dalamnya penulis menggambarkaan rasa cintanya terhadap batik, tentang bagaimana keinginannya mencetak generasi muda yang bangga mengenakan batik, dan menjadikan batik sebagai identitas bangsa Indonesia.


Dan pada bab terakhir, penulis merangkai kata dengan begitu indah dan hati terasa hangat, mengetahui bagaimana penulis telah jatuh hati sedalam-dalamnya dengan batik, dan bagaimana batik telah menjadi pashion yang teramat disyukuri dalam hidup.


Meskipun bukunya sebagian besar berisi perjalanan penulis dalam menemukan identitas dirinya melalui batik, buku ini banyak diselipkan quote, dan beberapa kalimat dengan memasukan unsur islami. Tapi tetap bisa dibaca semua kalangan, karena sejatinya semua yang ditulis adalah suatu perjalanan lengkap dalam menemukan titik balik.


Jika kamu masih mencari identitas diri di usia 20 atau mungkin 30, dan mengeluh tentang dirimu yang tidak kunjung menemukan jati diri, bersabarlah barang sebentar. Mungkin kamu akan menemukannya di usiamu yang ke 45, sebagaimana penulis. Maka bersabarlah atas air mata dan kesedihan yang terpendam di dinding kamar, hati yang rasanya lelah, hari hari yang muak dan bertemu dengan manusia jahat. Maka bersabarlah barang sebentar.