Batik Angkot Diliput berbagai media massa

BOGOR, KOMPAS.com - Julukan Bogor yang disebut kota sejuta angkutan perkotaan (angkot) membawa ide unik bagi Sri Ratna Handayani. Wanita yang berprofesi sebagai pengrajin batik ini menuangkan ide itu di atas kain.

Handayani, begitu sapaan akrabnya, kini memperkenalkan batik angkot sebagai ikon baru dari gerai miliknya. Menurut Handayani, angkot di Kota Bogor memiliki ciri khas dibanding angkot-angkot di daerah lain.

Oleh karena itu, kain batik angkot miliknya mempunyai corak, warna, luriknya, sama seperti angkot di Kota Bogor.

"Ciri khasnya, seperti angkot apa adanya. Gambar dan luriknya berbeda, warnanya juga," ucap Handayani usai peluncuran kain batik angkot, di Bogor, Jawa Barat, Sabtu (22/4/2017).

Handayani menjelaskan, membatik merupakan proses seni yang menggunakan rasa. Begitu juga dengan angkot, banyak orang yang berpikir sebagai biang kemacetan.

Akan tetapi, sambungnya, keberadaan angkot bisa jadi positif jika dilihat dari sisi yang lain. Dirinya pun secara khusus mempersembahkan batik angkot ini kepada kaum perempuan di Bogor terhadap keberadaan angkot di Kota Bogor.

"Bogor punya banyak ikon, ya salah satunya angkot ini. Karena saya pengguna angkot sekaligus pengrajin batik, saya tuangkan ide ini di atas kain," katanya.

Menurut Handayani, ide memproduksi batik motif angkot ini muncul setelah Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto secara khusus melukis angkot sebagai motif batik dalam kegiatan amal memperingati HariBatik, Oktober tahun 2016 lalu.

Karya Bima Arya tersebut dilelang dan laku terjual senilai Rp 42 juta. Dana yang terkumpul didonasikan ke Yayasan Kanker Indonesia dalam rangka membantu pasien kanker.

"Yang men-support ini memang pak Bima Arya. Saya pribadi sempat tidak percaya diri. Tapi, pak Bima bilang, ini (angkot) salah satu ikon Kota Bogor," tambah dia.

Kini, batik motif angkot miliknya telah diproduksi secara massal. Handayani memproduksi sekitar 200 potong dengan berbagai ragam dan corak. Harga satu kain batik motif angkot mulai dari Rp 50.000 sampai Rp 100.000 per 2 meter.

Untuk mempecepat produksinya, Handayani membuat motifnya dengan teknik batik cetak sehingga lebih terjangkau oleh masyarakat.

Selain motif angkot, Handayani juga sudah memproduksi batik motif khas Bogor lainnya, seperti motif Cepot, Tilu Sauyunan, Bogor Pisan, dan Kijang Papasangan.

"Saya selalu berpikir, pasti ada market (pangsa pasar) untuk setiap ide kreatif. Saya juga yakin, kain batik motif angkot ini juga akan diminati masyarakat. Dalam peluncuran kain batik motif angkot ini, juga diwarnai dengan sejumlah model yang memeragakan busana batik motif angkot.

Tidak hanya itu, menariknya, sejumlah pejabat setempat, seperti Wali Kota Bogor, Sekretaris Daerah Kota Bogor, hingga Kapolresta Bogor Kota, ikut berlenggak-lenggok di atas jalur pedestrian mempromosikan kain batik motif angkot ini.